Wednesday, August 22, 2012

Halal Bi Halal di Kabupaten Magetan

go to Magetan- Kata Halal Bi Halal pasti tidak asing terdengar di telinga kita, yaitu berkumpulnya keluarga besar, atau instansi untuk mengadakan pertemuan yang di akhiri dengan salam-salaman.

Di Magetan 5 hari setelah Hari Raya Idul Fitri, biasanya di gunakan untuk mengadakan Halal Bi Halal tersebut. Ya karena 4 hari dari Sholat Idul Fitri dilaksanakan, biasanya warga magetan sibuk berkunjung, ke tetangga, kerabat, saudara dan handai taulan.
Entah dari mana datangnya tradisi Halal Bi Halal di Kabupaten Magetan ini berawal. Seorang budayawan terkenal Dr Umar Khayam (alm), menyatakan bahwa tradisi Lebaran merupakan terobosan akulturasi budaya Jawa dan Islam. Kearifan para ulama di Jawa mampu memadukan kedua budaya tersebut demi kerukunan dan kesejahteraan masyarakat. Akhirnya tradisi Lebaran itu meluas ke seluruh wilayah Indonesia, dan melibatkan penduduk dari berbagai pemeluk agama. Untuk mengetahui akulturasi kedua budaya tersebut, kita cermati dulu profil budaya Islam secara global. Di negara-negara Islam di Timur Tengah dan Asia (selain Indonesia), sehabis umat Islam melaksanakan salat Idul Fitri tidak ada tradisi berjabatan tangan secara massal untuk saling memaafkan. Yang ada hanyalah beberapa orang secara sporadis berjabatan tangan sebagai tanda keakraban.

Tapi yang penting sob menurut tuntunan ajaran Islam, saling memaafkan itu tidak ditetapkan waktunya setelah umat Islam menyelesaikan ibadah puasa Ramadan, melainkan kapan saja setelah seseorang merasa berbuat salah kepada orang lain, maka dia harus segera minta maaf kepada orang tersebut. Bahkan Allah SWT lebih menghargai seseorang yang memberi maaf kepada orang lain (Alquran Surat Ali Imran ayat 134)

Jadi Halal Bi Halal di Kabupaten Magetan, ya ngikut aja dari kebiasaan Bangsa Indonesia yang konon di populerkan oleh Bung Karno, karena ucapan Buya Hamka, hal ini seperti ucapan Umar Shihab, mengenai asal-usul halal bi halal yang menjadi tradisi di Indonesia. Menurutnya, tradisi yang baik ini pertama kali dikenal pada 1963, saat Buya Hamka bertemu dengan Presiden Soekarno di Istana Negara dalam suasana Idul Fitri.“Pada saat keduanya berjabat tangan, Buya Hamka mengatakan kita halal bi halal, dan Bung Karno mengatakan juga dengan keras halal bi halal. Lalu tahun-tahun berikutnya Bung Karno yang mempopulerkannya.

Menurutnya, dalam sebuah wawancara Buya Hamka pernah mengatakan bahwa makna halal bi halal adalah bertemunya pribadi-pribadi yang suci yang telah serius menggembleng dirinya dalam bulan Ramadhan. “Halal itu suci, bersih, baik. Halal bi halal adalah upaya mempertemukan pribadi-pribadi yang baik yang telah sungguh-sungguh menjalankan ibadah Ramadhan, begitu keterangan Buya,” kata Umar yang saudara kandung mantan Menag Prof Dr Quraish Shihab tersebut.

Dari penjelasan itu semua yang penting yo saling memaafkan ya!, bertemu dengan saudara, kawan, dan tetangga saling memaafkan.  serta yang terahir nih  tak ketinggalan, makan bersama...nyam...nyam...hemm

0 komentar:

Post a Comment

Etika Berkomentar di blog ini adalah:
1. No Spam
2. No Pornografi
3. No Gambling
4. Jangan menuliskan alamat url anda di dalam teks komentar

Mohon maaf apabila komentar anda tidak kami tampilkan atau kami hapus karena tidak sesuai dengan peraturan yang kami buat!.terima kasih atas kunjuangannya.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More