Tuesday, October 23, 2012

Manasik Haji Kecil di Magetan


Kabupaten Magetan - Hari ini (23/10/2012) Manasik Haji Kecil di Magetan di selenggarakan di alun-alun kota Magetan. Manasik Haji Kecil di Magetan di di prakarsai  oleh Kementrian Agama kab. Magetan dalam rangka menyambut tahun baru Hijiyah 1434 H dan menyongsong Hari Amal Bhakti ke 67 Kementrian Agama.

Manasik Haji Kecil di Magetan ini di gelar untuk melatih dan mengenalkan anak di usia dini dalam hal bagaimana tatacara haji yang benar, agar nanti apabila setelah dewasa mereka tidak canggung dan bingung lagi untuk melakukan Haji.

Manasik Haji Kecil di Magetan ini di laksanakan mulai pukul 06.30 pagi hari, dan menurut rencana akan selesai pada pukul 10.00 WIB.

Setiap orang yang melaksanakan ibadah haji tentu berharap agar hajinya mabrur. Bagaimana tidak? Karena haji yang mabrur pahalanya sangat besar yaitu surga. Rasulullah saw bersabda, “Haji mabrur itu tidak ada balasannya melainkan surga” (HR. Bukhari dan Muslim).

Nah mungkin ada diantara sobat yang belum tahu haji Mabrur itu haji yang bagaimana?. Haji mabrur adalah haji yang diterima oleh Allah Swt. Menurut sebahagian ulama, haji mabrur adalah ibadah haji yang pengaruhnya terlihat bagi pelakunya, sehingga perilakunya berubah menjadi lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya. Pendapat yang lain, haji mabrur adalah ibadah haji yang tidak dicemari dengan dosa. (Subulussalam, 2/283)

Adapun untuk meraih haji mabrur, ada beberapa yang harus di perhatikan yaitu harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

Pertama, harus dilakukan dengan ikhlas. Di dalam menunaikan ibadah haji, seseorang tidak ada tujuan lain selain mendapatkan ridha Allah Swt., Tidak riya’ (pamer) agar dipuji orang atau mencari popularitas, tidak juga untuk mendapat gelar “haji”, akan tetapi hanya mengharapkan ridha Allah Swt. ini sesuai dengan firman Allah SWT, “Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah Swt dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama...” (QS. Al-Bayyinah: 5).

Hal ini juga telah di jelaskan oleh Rosulullah saw.dalam hadisnya, “Sesungguhnya suatu amal itu akan diterima dengan niat (ikhlas)...” (HR. Bukhari dan Muslim) , jadi  ikhlas merupakan syarat mutlak diterima suatu ibadah.

Kedua, melaksanakan ibadah haji sesuai dengan petunjuk (sunnah) Rasulullah saw dalam ibadah haji, karena suatu ibadah yang dikerjakan tanpa petunjuk Rasul saw tidak akan diterima oleh Allah Swt. Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang mengada-adakan suatu urusan agama yang bukan berasal dari petunjuk kami maka amalannya tersebut ditolak” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Adapun tatacara pelaksanaan ibadah haji telah dijelaskan dan dipraktekkan oleh Rasulullah saw dalam manasik haji beliau, dan kita diperintahkan untuk mengikutinya. Rasulullah saw bersabda,  “Ambillah dariku manasik (tata cara haji) kamu sekalian” (HR. Muslim dan Abu Daud).

Maka, kewajiban semua kaum muslimin harus meneladani Nabi saw, dengan melaksanakan manasik haji yang telah diajarkannya. Sebab, Nabi saw sebagai pengajar dan pembimbing manusia kepada jalan kebenaran, yang diutus Allah sebagi pembawa rahmat bagi semesta alam dan sebagai hujjah atas semua manusia, Oleh karena itu, Allah saw memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk mentaati Nabi saw (QS. Al-Hasyr: 7). Maka kesimpulannya mengikuti Nabi saw adalah bukti kebenaran cinta seseorang kepada Allah (QS. Ali Imran: 31).

Ketiga, untuk pembiayaan haji tidak boleh berasal dari harta riba, hasil penipuan, judi, pencurian, korupsi, atau lainnya yang merupakan perbuatan yang diharamkan. Akan tetapi harus dari harta halal. Hal ini dijelaskan oleh rasulullah dalam hadisnya, “Sesungguhnya Allah itu baik. Dia tidak akan menerima kecuali yang baik...” (HR. Muslim dan Tirmizi). Maka, harta yang baik (halal) merupakan syarat diterimanya ibadah.

Keempat, didalam melaksanakan Haji di haruskan meninggalkan maksiat dan hal-hal yang diharamkan pada waktu mengerjakan ibadah haji, berdasarkan firman Allah Swt, “..Barangsiapa mengerjakan (ibadah) haji pada (bulan-bulan) itu, maka janganlah ia rafats, berbuat fasik, dan jidal dalam (melakukan ibadah) haji..” (QS. Al-Baqarah: 197). Rasulullah saw. juga memberi peringatan kepada kita melalui hadisnya, “Barang siapa mengerjakan ibadah haji sedangkan dia tidak melakukan rafats dan berbuat fasik, maka dia kembali seperti hari dia dilahirkan ibunya.” (HR. Ahmad, Bukhari dan Ibnu Majah).

Menurut para ulama, rafats adalah melakukan senggama dan hal-hal yang mengarahkan kepadanya. Sedangkan fasik adalah semua perbuatan maksiat. Adapun jidal, ulama menafsirkan dengan perdebatan yang dilarang adalah semua perdebatan yang meyebabkan kegaduhan, mudharat kepada orang lain atau mengurangi ketentraman. Atau yang dimaksudkan adalah perdebatan yang menyerukan kepada kebatilan dan mengaburkan kebenaran.

Menurut Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz berkata, “Adapun arti rafats adalah melakukan hubungan badan ketika sedang ihram dan hal-hal yang mengarah kepadanya, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan. Sedangkan fasik adalah semua perbuatan maksiat.

Menurut Syeikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, “Orang yang mengerjakan haji hendaklah menjauhi rafats yaitu jima’ dan semua sebab dan motif yang mendorongnya, menjauhi tindakan fasik baik dalam bentuk kata-kata yang diharamkan seperti ghibah (mengumpat), namimah (mengadu-domba) atau dusta, maupun berupa perbuatan yang diharamkan seperti memandang wanita yang bukan mahramnya dan lain sebagainya.

Adapun jidal yaitu bertengkar dan berdebat dengan orang lain ketika menunaikan ibadah haji. Hal ini akan banyak mengurangi pahala haji, kecuali berdebat untuk mencari kebenaran dan menjauhi kebatilan, maka ini hukumnya wajib.” (Syarah Riyadhus Shalihin, 3/747)

Apakah Tandanya Haji itu Mabrur?

Sesungguhnya, orang yang telah menunaikan ibadah haji sepulangnya ke tanah air,  perilakunya menjadi lebih baik dari perilaku sebelumnya. Ia akan selalu menjaga dirinya dari  maksiat dan dosa, baik berupa ucapan maupun perbuatan. Ia melaksanakan semua perintah Allah dan Rasul-Nya sesuai dengan kemampuannya. Ibadahnya pun semakin baik dan meningkat, baik dari kualitas dan kuantitasnya. Ia akan selalu menjaga shalat fardhu lima waktu secara berjama’ah. Ia memperbanyak shalat sunnat seperti shalat sunnat rawatib, dhuha, setelah wudhu, dan sebagainya. Begitu pula ia membaca Al-Quran setiap hari. Itulah tanda haji mabrur.

Menurut Syaikh Abdul azis bin Abdullah bin Baz, tanda haji yang mabrur adalah melaksanakan semua kewajiban dan meninggalkan semua kemaksiatan dengan tanpa sedikitpun terus-menerus dalam suatu perbuatan maksiat. Maka, kewajiban setiap muslim, baik yang sedang mengerjakan haji atau yang tidak adalah menghindari semua perbuatan maksiat dan bersegera taubat kepada Allah dengan meninggalkan semua perbuatan maksiat untuk tidak mengulangi lagi karena mengagungkan Allah dan berkeinginan mendapatkan apa yang ada di sisi-Nya. Dan diantara bentuk taubat yang sempurna, yaitu jika kesalahannya berkaitan dengan manusia, maka ia harus mengembalikannya kepada orang yang berhak atau minta dihalalkan olehnya.

Semoga Anak-anak kecil ini besuk bisa menunaikan haji dan hajinya mabrur, dan semoga para haji yang sekarang sedang menunaikan haji juga nantinya bisa menjadi haji mabrur.


4 komentar:

Post a Comment

Etika Berkomentar di blog ini adalah:
1. No Spam
2. No Pornografi
3. No Gambling
4. Jangan menuliskan alamat url anda di dalam teks komentar

Mohon maaf apabila komentar anda tidak kami tampilkan atau kami hapus karena tidak sesuai dengan peraturan yang kami buat!.terima kasih atas kunjuangannya.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More