Thursday, February 21, 2013

Wanita Hamil Meninggal di RSUD dr Sayidiman Magetan karena tidak dilayani

MAGETAN - Satu lagi, warga miskin harus meninggal di rumah sakit.

Ny Kurnia Kartika Sari (21), tengah hamil lima bulan yang di diagnosa terkena Demam Berdarah (DB).

Warga Dusun Kunden, Kelurahan Mangkujayan, Kecamatan/Kabupaten Magetan bulan, meninggal di RSUD dr Sayidiman Magetan setelah tidak mendapat layanan maksimal karena membawa kartu masyarakat miskin (Maskin).

"Percuma saja saya bawa KTM (Kartu Tanda Miskin), toh nyatanya pelayanannya (diskriminasi) membeda-bedakan. Saya juga masih diminta beli obat ke apotek yang ditunjuk dokter setempat,"kata Edy Purwanto (27) suami korban kepada Surya, Rabu (20/2/2013).

Menurut Edy Purwanto, selama istrinya masuk hingga meninggal di RSUD dr Sayidiman, Magetan, tidak pernah mendapat layanan maksimal.

"Masuk ke RSUD Magetan hanya di infus dan diberi oksigen untuk bernafas, setelah itu perawatnya tidur lagi,"tuturnya.

Baru masuk UGD, tambah Edy, dia sudah diminta menebus obat ke apotek yang ditunjuk. Padahal apotek RSUD dr Sayidiman informasinya buka 24 jam.

"Saya diminta beli obat ke apotek Mahatma yang apoteknya berjarak kurang lebih 2km. Sementara apotek di RSUD katanya tutup dan tidak ada obatnya," kata suami yang baru menikahi istrinya kurang lebih tujuh bulan ini.

Penderitaan keluarga korban tidak hanya sampai disitu, karena merasa tidak mendapat pelayanan sebagaimana mestinya. Suami berserta keluarganya berniat membawa korban ke RSUD Provinsi dr Soedono Kota Madiun, namun pihak RSUD dr Sayidiman mengancam akan mencopot infus dan oksigen.

"Karena tidak dilayani secara baik, saya berniat merujuk ke Madiun. Tapi RSUD dr Sayidiman membolehkan asal infus dan oksigen dicopot. Itu kan sama saja membunuh istri saya. Tindakan perawat dan tenaga medis di RSUD Magetan itu tak berperikemanusian," katanya dengan menahan emosinya.

Dia berharap ada pihak-pihak terkait yang bisa mensupervisi RSUD Magetan itu agar bisa menjalankan fungsi sosialnya dengan baik, sesuai nama RSUD itu.

"Rumah sakit itu dibuat kan tidak hanya untuk mencari untung semata, tapi untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada warga. Hal ini agar tidak ada korban lagi, setelah istri saya,"katanya.

Direktur Utama RSUD dr Sayidiman Ehud Alawy yang dikonfirmasi belum bisa memberikan jawaban karena belum checking terhadap pasien itu.
"Mudah-mudahan pelayanan perawat dan para medis disini sudah sesuai dengan protap (prosedur tetap),"kata Ehud Alawy kepada Surya (tribunnews group).

Ehud juga menolak ketika ditanyakan pembawa SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) diharuskan membeli obat diluar RSUD Magetan itu.

"Kalau bawa KTM, tidak boleh dikenakan biaya,"kata Dirut RSUD dr Sayidiman.

Karena itu, Ehud, berusaha akan verifikasi kepada keluarga korban, benar tidaknya informasi itu.

"Kita akan verifikasi," tukasnya.



Sumber berita : Tribunnews.com

14 komentar:

Sebetulnya masih banyak kasus-kasus yang lainnya, namun warga masih bingung kemana harus memgadukannya, sungguh ironis.

cerminan bahwa seluruh rumah sakit yang ada dinegeri ini ngaco...hampir disetiap kabupaten/kota RSU berprilaku seperti cerita diatas, "Orang Miskin Dilarang Sakit" bener bener diterapkan oleh seluruh rumah sakit.
Turunkan Menteri Kesehatan sebagai penanggungjawab tertinggi.

Iyah ustad,,, bener.
Haddoooohhh mudah-mudahan Konflik ini cepat berakhir.

Eh iya ustad kemaren malah ngenes lagi, aq baca berita, anak balita Meninggal gara2 biaya nya kurang, 40 juta. Padahal sudah ada biaya 60 juta dari pihak daerah, Eehhh ternyata Rumah Sakit gak cepat tanggap dalam pelanyanan.

Huuuuuuhuuu,,.. Nasib jadi orang bawah ini tadz :(

aystem indonesia emang ruwet. dari dulu rumah sakit indoneisia emang kayak gitu, medhulukan uang dari pada keselamatan pasien.

Iya mas, kayaknya mayarakat jadi takut juga mengadu walaupun sekedar mengeluh, karena takut menjadi tersangka pencemaran nama baik! wah jadi ribet ya?! moga pemerintah terkait mendengar ataupun melihat berita ini dari sudut pandang yang positif dan bukannya negatif, jadi ini adalah sebuah kritikan yang nantinya bisa membangun pelayanan publik yang baik, tepat, cepat, dan murah

Wah ane blum tahu klo ada juga yang pelayanannya seperti yang di sebutkan. Klo menurunkan menterinya kira-kira apa ya dapat menyelesaikan masalah ya kang!

Di situ kelihatannya hampir sama tentang pelayanan rumah sakit, ya semoga mereka mendengar, melihat dan memperbaiki sistem pelayanan prima untuk publik!

Do'a aja moga pemimpin Indonesia tidak seperti penjajah yang biasa menguras dan memeras jajahannya!

Sekolah dokter dan perawat biayanya sangat mahal. Kebanyakan mereka yang masuk sekolah ini karena cukup duit, bukan karena dari hati nurani yang ingin mengabdi. mereka kebanyakan tergiur dengan kenyataan lulusan dokter dan perawat dapat hidup layak.

BEGINILAH AKIBATNYA

Kayaknya saya setuju dengan pendapat anda pak Harun! semoga masih ada para pelayan masyarakat yang benar-benar mengabdi untuk Masyarakat.

Kita tentu menyayangkan bila benar fakta yang dimuat tersebut. Bagaimana perasaan kita bila hal tersebut menimpa keluarga kita. Perlu langkah yang tepat, segera, transparan, dan bijak untuk meningkatkan layanan RSUD dr. Sayidiman Magetan. Layanan yang cepat, ramah, transparan, dan profesional amat dibutuhkan oleh para pasien dan keluarganya. Image negatif yang melekat harus dihapus diganti dengan image yang positif. RSUD dr. Sayidiman Bisa !

Layanan prima dan ramah dan terbuka adalah modal majunya suatu organisasi pelayan masyarakat. Semoga RSUD tersebut tidak anti pati terhadap kritikan dari masyarakat yang di layaninya, karena pada saat ini terlihat dan kenyataannya begitu!

Post a Comment

Etika Berkomentar di blog ini adalah:
1. No Spam
2. No Pornografi
3. No Gambling
4. Jangan menuliskan alamat url anda di dalam teks komentar

Mohon maaf apabila komentar anda tidak kami tampilkan atau kami hapus karena tidak sesuai dengan peraturan yang kami buat!.terima kasih atas kunjuangannya.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More